|
JAKARTA--Persoalan angka gigi berlubang yang menimpa 77% anak-anak Indonesia merupakan pekerjaan rumah bagi para orang tua. Orang tua dituntut untuk kreatif dan menjadi panutan (role model) bagi anak-anak. Demikian kesimpulan hasil bincang-bincang disela kampanye Sikat Gigi Pagi dan Malam yang digagas Pepsodent di Jakarta, baru-baru ini.
Turut hadir dalam acara, Pakar Kesehatan gigi dan mulut, Drg.Armasastra Bahar, pakar Psikologi, Fabiola P. Setiawan dan Profesional Relationship Manager Drg. Ratu Mirah Afifah. Dalam kesempatan tersebut, Drg Bahar mengatakan persoalan malasnya anak membersihkan gigi terletak pada belum mantapnya orang tua dalam menciptakan kebiasaan sedari awal. Padahal, bila sudah dibiasakan maka kesulitan-kesulitan macam itu harusnya tidak ada. "Pada saat bayi, kebiasaan sikat gigi bisa dimulai. Pertama menggunakan alat berupa sikat yang menempel pada jari atau menggunakan kain kassa untuk membersihkan gusi dari sisa menyusui," tuturnya.
Awalnya, tambah dia, anak mungkin akan merasa tidak nyaman atau menolak. Namun bila secara teratur diberikan maka dengan sendirinya anak akan terbiasa. Menurut Fabiola, orang tua memang harus mengontrol emosi terlebih dahulu sebelum memberikan suatu kebiasaan baru pada anak. Pasalnya, orang tua dimata anak merupakan sosok yang ditiru atau role model. Oleh sebab itu, ada tiga faktor yang harus perhatikan orang tua saat memberikan sebuah kebiasaan baru seperti menyikat gigi. Pertama, orang tua harus konsisten. Faktor konsisten akan memberikan perspektif tersendiri dari anak kepada orang tua. Tanpa adanya konsistensi orang tua akan bertalian dengan ketidak konsistenan pada anak. "Konsisten disini, dimaksudkan kepada para orang tua agar mengajarkan anak secara terus menerus sesuai dengan tingkatan umur yang dilalui," tukasnya. Kedua, Lingkungan. Dijelaskan Fabiola, dalam pengenalan kebiasaan seperti menyikat gigi harus melibatkan anak-anak secara penuh. Dengan begitu, anak-anak bisa mendapatkan pengalaman secara langsung. Tunjukan cara-caranya secara perlahan mengikuti proses hingga pada akhirnya anak pun mengerti. Ketiga, Kondisi yang menyenangkan. Penciptaan kondisi yang menyenangkan pada anak membuat orang tua lebih mudah mengajarkan. Dijelaskan Fabiola, penciptaan kondisi menyenangkan menuntut orang tua harus lebih kreatif. Medium permainan menjadi salah satu contohnya. "Pada umur 3-6 tahun, merupakan masa bermain anak. Maka penggunaan contoh atau model akan menjadi cara yang terbaik untuk memberikan pengetahuan menyikat gigi," tuturnya. Disamping itu, peran kakak juga dimanfaatkan orang tua sebagai contoh kepada adiknya. Tapi dilakukan dengan cara yang benar bukan berarti menyudutkan salah satu anak. Orang tua juga bisa menggunakan semacam tabel yang menguraikan proses tahapan yang harus dilalui si anak. Setiap tahapan, orang tua harus memberikan target. Namun, target yang dimaksud hanyalah sebagai pengukur para orang tua bukan bertujuan membebani anak. Pemberian penghargaan atau reward juga menjadi alternatif. Namun, Fabiola mengingatkan kepada para orang tua untuk tidak sembarang memberikan penghargaan terhadap anak. "Penghargaan tidak melulu berupa barang tapi lebih bijak bila berupa pujian terhadap anak. Karena pujian bisa membentuk kepercayaan diri anak untuk lebih baik lagi," tukasnya. Ditambahkan Fabiola, selama anak memahami maka tinggal orang tua memantapkan lagi ekspresinya. Ragam Kreativitas Sosok ibu merupakan pihak yang paling direpotkan guna mengajarkan anak menggosok gigi. Meski begitu, para Ibu biasanya menggunakan seribu jurus untuk menghadapi ruwetnya menangani anak. Fira Basuki misalnya, mempunyai cara unik saat mengajarkan putrinya yang bernama Syaza Calibira Galang (10 tahun) untuk menggosok gigi. Perempuan kelahiran 7 Juni 1972 itu, harus menceritakan sebuah dongeng kepada putrinya sebelum menggosok gigi. Cara demikian dinilai fira begitu efektif. Tapi sayangnya, dia harus berhadapan dengan masalah baru. Lantaran si anak senang mengkonsumsi permen. Padahal, konsumsi permen berlebih dapat berdampak kerusakan plak pada gigi. Lain halnya Fira, Ersa Mayori atau yang akrab dipanggil Echa punya cara tersendiri. Saat menghadapi putri pertamanya, Aiska Fairana yang berusia 5 tahun, dirinya harus memberikan permainan yang juga melibatkan suaminya. Dia bersama suami saling bahu membahu memberikan perjelasan secara bertahap kepada si anak. "Intinya dibentuk sebuah permainan dahulu baru ditingkatkan tarafnya menjadi kebiasaan," tukas Echa. Sekarang Echa tersenyum puas saat putrinya secara rutin 3 kali sehari menggosok gigi. Padahal dahulu, Echa harus bertengkar dengan si anak terkait masalah menggosok gigi. Hingga Echa dan suami harus merundingkan cara yang tepat guna menghadapi Aiska. Pada usia itu, cerita Echa, Aiska memang senang melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa tahu apa yang dilakukan. "Usia anak segitu melakukan segala sesuatu bukan karena mandiri tapi lebih kepada sok tahu," tukasnya sembari tersenyum. Republika Pada intinya, kata Echa, orang tua memang dituntut kreatif. Hanya dengan cara seperti itu tercipta sebuah kebiasaan positif pada anak. Lain hal Echa ataupun Fira, mantan anggota Ab Three nampaknya memiliki masalah tersendiri terkait mengajarkan anak menggosok gigi. Putri pertamanya, Adyla Rafa Naura Ayu (4.5 tahun) tidaklah menyulitkan Nola. Giliran menangani putra keduanya, yang bernama Adiano Rafi Bevan Putra (2.5 tahun) jauh lebih sulit. Si anak keseringan bukan menyikat giginya sendiri melainkan hal-hal yang dilihatnya termasuk tembok ataupun shower. Sebabnya, tensi Nola kerap meningkat. Hingga kini, Nola belum tahu cara yang tepat untuk mengatasi Adiano. "Belum selesai anak kedua, siap-siap menghadapi si bungsu (Anodia Sheila Neona ayu, 4,5 bulan)," pungkasnya sembari terkekeh. cr2/rin
|
thanks,,,,atas infonya...
luar biasa pak tif.. :...
Allahuakbarrr............
maaf kawan. yg anda ka...
terimahasih ya allah a...